Kamis, 04 Februari 2016

Memahami waktu pengapian motor standar dan balap

Membahas masalah pengapian susah-susah sedap kawan..maklum hal ini tidak bisa dilihat secara kasat mata karna membutuhkan perangkat khusus....terutama bagi yang tidak mengerti seperti saya pasti pusing 7 keliling mikirinya, tapi bagi yang sudah mengerti hemmm..... dijamin besutanya makin kenceng deh.....namun tidak ada yang susah jika kita mau mempelajarinya.....untuk itu admin mencoba membahas yang ringan-ringan saja dulu tapi sangat berpengaruh besar.......apakah itu...? ya...drajat letupan pengapian moto standar dan balap....menurut data yang admin dapatkan selama ini dari berbagai sumber bahwa :

Pengapian untuk motor standart terjadi
• Pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM)  loncatan api pada 8 - 15 derajat sebelum TMA
• Pada RPM tengah tinggi (4.000 ke atas) loncatan api pada 25 - 30 derajat sebelum TMA
• Api busi tidak besar dibanding pengapian balap



kenapa motor standar meletupkan bunga api 8-15 drajat sebelum TMA ...hal ini di mungkinkan karna sifat bahan bakar/oktan dan kompresi pada ruang bakar yang di gunakan.....seperti yang kita ketahui motor standar menggunakan bahan bakar premium yg beroktan 88 (mudah terbakara) dan kompresi antara 8-9 : 1...jadi cukup membutuh kan drajat yang sempit untuk membakar bahan bakar premium di tambah lagi kompresi yang rendah yang makin mendukungnya proses pembakaran lebih cepat pada (RPM 1000-3000)
namun memasuki RPM 4000 keatas sudut drajat letupan bunga api berubah menjadi 25-30 drajat sebelum TMA di mungkinkan karna putaran mesin yang makin cepat dan " ratio compresinya" yang berbeda dengan RPM rendah




Pengapian untuk motor balap terjadi
• Pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM) : loncatan api pada 20 - 30 sebelum TMA
• Pada RPM tengah sampai tinggi ( 4.000 ke atas) : loncatan api pada 35 - 42 sebelum TMA
• Api busi besar



kenapa motor balap meletupkan bunga api 20-30 drajat sebelum TMA ...hal ini di mungkinkan karna sifat bahan bakar/oktan dan kompresi pada ruang bakar yang di gunakan.....seperti yang kita ketahui motor balap menggunakan bahan bakar yg beroktan 90-100 (yang memiliki sifat sulit untuk terbakar) dan kompresi antara 10 - 14 : 1...jadi sangat membutuh kan drajat yang lebih besar dari standar (lebih awal meletupkan bunga api) untuk membakar bahan bakar Racing yang memiliki oktan tinggi dan memiliki sifat yang sulit untuk terbakar di tambah lagi kompresi yang tinggi yang makin mendukungnya proses pembakaran lebih awal pada (RPM 1000-3000)
namun memasuki RPM 4000 keatas sudut drajat letupan bunga api berubah menjadi 35-42 drajat sebelum TMA (makin lebih awal menyalahkan bunga api) di mungkinkan karna putaran mesin yang makin cepat dan ratio compresinya yang berbeda dengan RPM rendah ....itu sebabnya kenapa pada perangkat pengapian motor balap membutuhkan perangkat tambahan untuk makin menyempurnakan proses pembakaranya...seperti koil racing....busi rasing.....magnet racing dll ......semua bertujuan untuk memaksimalkan proses terjadinya pembakaran pada ruang bakar agar mendapatkan hasil/tenaga yang lebih maksimal di banding dengan motor standar

bagaimana kita bisa mengupgrade drajat pengapian ini...???
secara manual bisa di lakukan dengan cara menggeser pick up pulsar (tonjolan yang ada di magnet) namun tentunya menggunakan cara ini butuh ketelitian yang tinggi agar hasilnya akurat....namun cara ini adalah cara yang paling murah...oleh sebab itu sampai saat ini masi banyak yang mengaplikasikannya



tapi kalo mau yang lebih akurat tentunya menggunakan CDI yang bisa di Program...yang banyak beredar di pasaran..cuma harganya lumayan hehehe....

 Jika melalui CDI program jelas sangat akurat kita tidak perlu repot-repot ke tukang las untuk merubah drajat pengapiannya...karna sudah tersedia ...jadi tinggal klik aja.... 

Tanpa bermaksud untuk menggurui mohon maaf jika ada kesalahan dan kekurangan pada ulasan ini

Read more: http://infobalapliarjakarta.blogspot.com/2012/08/memahami-waktu-pengapian-motor-standar.html#ixzz3z9uLolkoMembahas masalah pengapian susah-susah sedap kawan..maklum hal ini tidak bisa dilihat secara kasat mata karna membutuhkan perangkat khusus....terutama bagi yang tidak mengerti seperti saya pasti pusing 7 keliling mikirinya, tapi bagi yang sudah mengerti hemmm..... dijamin besutanya makin kenceng deh.....namun tidak ada yang susah jika kita mau mempelajarinya.....untuk itu admin mencoba membahas yang ringan-ringan saja dulu tapi sangat berpengaruh besar.......apakah itu...? ya...drajat letupan pengapian moto standar dan balap....menurut data yang admin dapatkan selama ini dari berbagai sumber bahwa :

Pengapian untuk motor standart terjadi
• Pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM)  loncatan api pada 8 - 15 derajat sebelum TMA
• Pada RPM tengah tinggi (4.000 ke atas) loncatan api pada 25 - 30 derajat sebelum TMA
• Api busi tidak besar dibanding pengapian balap


kenapa motor standar meletupkan bunga api 8-15 drajat sebelum TMA ...hal ini di mungkinkan karna sifat bahan bakar/oktan dan kompresi pada ruang bakar yang di gunakan.....seperti yang kita ketahui motor standar menggunakan bahan bakar premium yg beroktan 88 (mudah terbakara) dan kompresi antara 8-9 : 1...jadi cukup membutuh kan drajat yang sempit untuk membakar bahan bakar premium di tambah lagi kompresi yang rendah yang makin mendukungnya proses pembakaran lebih cepat pada (RPM 1000-3000)
namun memasuki RPM 4000 keatas sudut drajat letupan bunga api berubah menjadi 25-30 drajat sebelum TMA di mungkinkan karna putaran mesin yang makin cepat dan " ratio compresinya" yang berbeda dengan RPM rendah




Pengapian untuk motor balap terjadi
• Pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM) : loncatan api pada 20 - 30 sebelum TMA
• Pada RPM tengah sampai tinggi ( 4.000 ke atas) : loncatan api pada 35 - 42 sebelum TMA
• Api busi besar



kenapa motor balap meletupkan bunga api 20-30 drajat sebelum TMA ...hal ini di mungkinkan karna sifat bahan bakar/oktan dan kompresi pada ruang bakar yang di gunakan.....seperti yang kita ketahui motor balap menggunakan bahan bakar yg beroktan 90-100 (yang memiliki sifat sulit untuk terbakar) dan kompresi antara 10 - 14 : 1...jadi sangat membutuh kan drajat yang lebih besar dari standar (lebih awal meletupkan bunga api) untuk membakar bahan bakar Racing yang memiliki oktan tinggi dan memiliki sifat yang sulit untuk terbakar di tambah lagi kompresi yang tinggi yang makin mendukungnya proses pembakaran lebih awal pada (RPM 1000-3000)
namun memasuki RPM 4000 keatas sudut drajat letupan bunga api berubah menjadi 35-42 drajat sebelum TMA (makin lebih awal menyalahkan bunga api) di mungkinkan karna putaran mesin yang makin cepat dan ratio compresinya yang berbeda dengan RPM rendah ....itu sebabnya kenapa pada perangkat pengapian motor balap membutuhkan perangkat tambahan untuk makin menyempurnakan proses pembakaranya...seperti koil racing....busi rasing.....magnet racing dll ......semua bertujuan untuk memaksimalkan proses terjadinya pembakaran pada ruang bakar agar mendapatkan hasil/tenaga yang lebih maksimal di banding dengan motor standar

bagaimana kita bisa mengupgrade drajat pengapian ini...???
secara manual bisa di lakukan dengan cara menggeser pick up pulsar (tonjolan yang ada di magnet) namun tentunya menggunakan cara ini butuh ketelitian yang tinggi agar hasilnya akurat....namun cara ini adalah cara yang paling murah...oleh sebab itu sampai saat ini masi banyak yang mengaplikasikannya



tapi kalo mau yang lebih akurat tentunya menggunakan CDI yang bisa di Program...yang banyak beredar di pasaran..cuma harganya lumayan hehehe....

 Jika melalui CDI program jelas sangat akurat kita tidak perlu repot-repot ke tukang las untuk merubah drajat pengapiannya...karna sudah tersedia ...jadi tinggal klik aja.... 

Tanpa bermaksud untuk menggurui mohon maaf jika ada kesalahan dan kekurangan pada ulasan ini

Mengenal CDI lebih dekat

CDI atau Capacitor Discharge Ignition adalah sistem pengapian pada mesin pembakaran dalam dengan memanfaatkan energi yang disimpan didalam kapasitor yang digunakan untuk menghasilkan tengangan tinggi ke koil pengapian  sehingga dengan output tegangan tinggi koil akan menghasilkan spark di busi. Besarnya energi yang tersimpan didalam kapasitor inilah yang sangat menentukan seberapa kuat spark dari busi untuk memantik campuran gas di dalam ruang bakar. Semakin besar energi yang tersimpan didalam kapasitor maka semakin kuat spark yang dihasilkan di busi untuk memantik campuran gas bakar dengan catatan diukur pada penggunaan koil yang sama. Energi yang besar juga akan memudahkan spark menembus kompresi yang tinggi ataupun campuran gas bakar yang banyak akibat dari pembukaan throttle yang lebih besar.

Skema CDI
Skema CDI secara umum ( diambil dari www.crustyquinns.com)
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa CDI yang kita pasang untuk pengapian sangat berpengaruh pada performa kendaraan yang kita gunakan. Hal ini disebabkan karena dengan penggunaan pengapian yang baik maka pembakaran di dalam ruang bakar akan tuntas dan sempurna sehingga panas yang dihasilkan dari pembakaran akan optimal. Kenapa panas sangat berpengaruh? Karena disain dari mesin bakar itu sendiri, yaitu mengubah energi kimia menjadi energi panas untuk kemudian diubah menjadi energi gerak. Semakin panas hasil pembakaran di ruang bakar artinya semakin besar ledakan yang dihasilkan dari campuran gas di ruang bakar sehingga menghasilkan energi gerak yang besar pula di mesin. Panas disini adalah panas yang dihasilkan murni dari ledakan campuran gas bakar, bukan karena gesekan antar komponen didalam ruang bakar. Dengan kata lain panas yang dimaksudkan adalah panas ideal yang dapat dihasilkan dari pembakaran campuran gas bakar dengan energi dari sistem pengapian yang digunakan.
Bagaimana kita mengetahui besarnya energi dari sistem pengapian (pada kasus ini CDI) yang kita gunakan? Besarnya energi ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus dasar untuk menghitung energi kapasitor yaitu : e=1/2*c*v*v. Dimana c adalah besarnya kapasitor yang digunakan (dalam satuan Farad) dan V adalah tegangan yang disimpan di kapasitor tersebut. Misalkan saja kapasitor yang digunakan 1uF dan tegangan yang disimpan 300V maka energi dari kapasitor tersebut dihitung menggunakan rumus tadi adalah 45 mili Joule. Energi inilah yang akan dikirimkan ke busi melalui koil yang kemudian akan digunakan untuk memantik campuran gas di ruang bakar. Oleh karena itu semakin besar energi ini, semakin kuat spark yang dihasilkan oleh busi.
spark
Spark energy
Besarnya energi ini biasanya (dan seharusnya) disebutkan pada spesifikasi CDI yang kita gunakan. Kenapa? Karena inilah inti dari CDI itu sendiri, yaitu energi yang dihasilkan. Disinilah kita bisa membandingkan atau memberikan suatu justifikasi bahwa sebuah CDI lebih powerfull dibandingkan CDI lain ataupun CDI bawaan standar pabrikan kendaraan. Namun bagaimana jika spesifikasi dari CDI yang kita gunakan tidak menyebutkan besarnya energi yang dihasilkan? Tentunya produsen CDI yang baik akan memberikan besaran-besaran spesifikasi lain yang digunakan oleh CDInya. Biasanya produsen akan memberikan tegangan output CDI, arus yang dikonsumsi, dan range RPM yang bisa dilayani oleh CDI tersebut. Disini masih ada satu pertanyaan untuk mencari nilai C yang digunakan, karena besarnya energi dihitung dengan nilai C kapasitor sedangkan produsen CDI memang jarang menyebutkan berapa besar C kapasitor yang digunakan.
Bagaimana kita mendapatkan besaran nilai C kapasitor? Tentu saja dengan menggunakan kembali parameter spesifikasi CDI yang diberikan oleh produsen. Dari teori rangkaian listrik pada suatu sistem bahwa jumlah daya yang dikeluarkan  maksimum sama dengan daya input (pada efisiensi 100%), maka kita dapat memperoleh selain nilai C kapasitor juga nilai energi yang digunakan. Daya input dihitung dengan P = V*I, dimana V adalah sumber tegangan untuk mencatu CDI, yaitu baterai (accu) dan I adalah arus dari baterai yang dikonsumsi CDI pada RPM maksimum yang masih dapat dilayani CDI.
Misalkan pada suatu CDI diketahui spesifikasi sebagai berikut :
tegangan kerja : 11 – 14.5 V
konsumsi arus : 0.1 – 0.75 A
tegangan output: 300 V
range RPM : 500 – 20000 rpm
Dari spesifikasi diatas dapat kita peroleh daya input CDI adalah P = 12 * 0.75, hasilnya adalah 9 watt. Disini digunakan V = 12 karena memang baterai (accu) yang umum digunakan di kendaraan (motor) adalah tipe 12 volt.  Arus (I) yang digunakan adalah 0.75 A (arus maksimum dengan acuan spesifikasi di atas) karena arus inilah yang digunakan untuk mengisi kapasitor pada RPM maksimum CDI (20000 rpm). Kenapa menggunakan acuan pada kondisi rpm maksimum? Karena CDI tersebut didisain untuk bekerja pada range RPM rendah- tinggi (500 – 20000 rpm). Semua disain CDI dihitung pada kondisi maksimum agar dapat beroperasi pada range RPM, karena pada RPM maksimum sistem CDI harus mengisi kapasitor sampai tegangan out yang ditentukan (300 V) sebelum satu putaran crankshaft. Karena setiap satu putaran crankshaft pasti tegangan tersebut akan dilepaskan ke koil sebagai akibat posisi sensor yang ditempatkan di magnet. Sehingga pengapian terjadi setiap 360 derajat atau dengan kata lain pengapian terjadi pada langkah kompresi dan langkah buang. Agar kapasitor dapat terisi penuh sebelum sensor mentrigger di semua range RPM maka waktu maksimum untuk mengisi kapasitor harus kurang dari waktu putaran crankshaft pada RPM maksimum. Pada kasus ini waktu pengisian harus < 0.003 detik, yang didapatkan dari rumus T=1/f, dimana f adalah RPM maksimum (20000 rpm = 333,333 Hz).
Dengan daya out CDI yang telah diketahui yaitu 9 watt, dapat kita hitung berapa energi yang dilepaskan oleh CDI. Energi inilah yang menjadi jaminan kualitas CDI yang kita gunakan. Energi ini dihitung dengan rumus P = E/T atau menjadi E = P*T. T disini adalah waktu pada RPM maksimum yaitu 0.003 sekon ( T=1/f, f=333.333Hz). Sehingga diperoleh E = 9*0.003 sama dengan 0.027 Joule. Dengan rumus energi kapasitor maka diperoleh besaran C = 2*E/(V*V) yaitu 0.0000006 Farad atau 0.6 mikro Farad.
capacitor
  capacitor
Dengan teori daya, maka daya yang dikeluarkan CDI maksimum sama dengan daya input yaitu 9 watt. Disini diasumsikan efisiensi sistem adalah 100 %. Pada kenyataannya tidak ada sistem yang memiliki efisiensi 100 %. Pada prakteknya efisiensi untuk pembangkitan tegangan tinggi seperti CDI berkisar di 80-85%, namun dengan disain rangkaian dan penggunaan komponen yang baik dapat diperoleh efisiensi 90%. Efisiensi lebih dari 95% belum dapat dicapai dengan teknologi komponen yang ada saat ini. Efisiensi 100% digunakan hanya untuk mempermudah hitungan kita saja, namun untuk hasil perhitungan yang lebih akurat sebaiknya besarnya efisiensi juga harus diperhatikan.
Energi 0.027 Joule diperoleh dengan efisiensi 100%, bagaimana jika efisiensi bukan 100%? Katakanlah desain CDI memiliki efisiensi 85%, maka energi output CDI adalah 0.0229 Joule. Pada mesin bakar ada parameter MIE (Minimum Ignition Energy) atau energi minimum yang dibutuhkan agar mampu membakar gas di dalam ruang bakar. Besarnya MIE ini untuk tipikal mesin 1 silinder adalah 0.020 Joule. Dari sinilah kita bisa mengetahui sebenarnya seberapa baikkah CDI yang kita gunakan. Dari kasus diatas ternyata beda energi CDI hanya sekitar 0.0029 Joule yang artinya sangat kecil. Artinya apakah dengan mengganti CDI dengan yang kita gunakan saat ini telah sesuai dengan ekspektasi?
      Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa produsen CDI yang baik harus mencantumkan energi dari CDI mereka karena hal inilah yang menjadi jaminan bahwa produk mereka memang bagus. Karena energi CDI ini sangat bergantung pada arus input, maka tak heran jika produsen CDI terkemuka selalu mengeluarkan spesifikasi CDI sesuai dengan keperluannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi “tekor” pada accu yang digunakan. Sebagai contoh, pada aplikasi CDI untuk keperluan harian (daily use) harus dikompensasi antara energi yang digunakan dengan pemakaian arus yang tidak melebihi kapasitas pengisian accu. Contoh lainnya pada aplikasi pengapian untuk drag bike. Untuk kasus ini mungkin  saja tidak memperhitungkan berapa arus pengisian accu. Karena pada drag bike mesin hanya hidup selama beberapa menit saja dan selama itu pula semua sumber daya yang ada di mesin di explore sebanyak-banyaknya termasuk penggunaan energi CDI sebesar-besarnya dengan arus maksimal dari accu yang digunakan.
Timing pengapian dan setingan lain tentu juga berpengaruh pada hasil akhir performa mesin, namun jika kita lihat dari sisi CDI itu sendiri, energi output lah yang menentukan kualitas CDI. Dengan timing dan setingan lain yang sama, CDI dengan energi yang lebih besar akan menghasilkan performa mesin yang lebih baik.
Ignition timing

Contoh timing pengapian
Dari paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin membuat CDI dengan spesifikasi “high energy” namun dengan konsumsi arus yang kecil, dan tentu saja hal ini bertentangan dengan hukum daya. Ingatlah bahwa rumus daya, tegangan, arus  (hukum kekekalan energi) adalah sudah matang alias sudah tidak bisa diutak-atik lagi sehingga semua hitungan dari spesifikasi CDI jelas tidak berbohong.
tanpa bermaksud untuk menggurui Semoga tulisan ini bermanfaat dan semakin menambah wawasan kita bersama mengenai apa itu CDI, bagaimana CDI yang baik dan seberapa besar energi pembakaran yang dihasilkan serta apa saja konsekuensi yang ditimbulkan dengan penggunaan CDI yang kita gunakan.

Keuntungan Menggunakan Booster DC Pada motor


Bagi para pengguna sepeda motor khususnya yang memakai pengapian DC, alat ini dapat membantu menyempurnakan pembakaran sehingga lebih responsif dan akselerasi lebih mantab.Alat ini berfungsi meningkatkan/memperbesar pengapian serta mampu menstabilkan pengapian sepeda motor yang menggunakan pengapian arus DC.Karena listrik pengapian DC stabil dan lebih besar, menghasilkan percikan api pada busi lebih besar sehingga mampu mendongkrak tenaga dan pastinya lebih hemat BBM.

Keuntungan pemakaian alat ini adalah :
1. Tenaga mesin bertambah (akselerasi/tarikan lebih ringan)
2. Torsi mesin bertambah.
3. Pembakaran lebih sempurna.
4. Ruang bakar menjadi bersih.
5. Mengurangi emisi gas buang.
6. Suara mesin lebih halus.
7. Mesin menjadi awet & tahan lama.
8. Starter lebih mudah.
9. Irit bensin
10. Suara klakson lebih keras.
11. Lampu-lampu lebih terang.
12. Tidak merusak komponen pengapian & mesin.
13. Kelistrikan motor menjadi stabil.
14. Umur aki dan CDI lebih panjang.
15. Bisa dipasangkan dengan CDI racing.

Komponen inti dari alat ini adalah capasitor/elco yang berfungsi sebagai penyetabil arus dan penyimpan muatan yang menuju CDI DC. Para penggemar otomotif sudah tidak asing lagi dengan capasitor bank. Capasitor bank sering dipakai dalam perangkat audio mobil yang berguna sebagai penyimpan muatan listrik dari accu supaya arus yang mengalir menuju perangkat audio mobil lebih mantab. Alat sebenarnya capasitor bank yang nilainya lebih kecil dari capasitor bang yang beredar dipasaran. DC boster pengapian dc sudah beredar di toko-toko variasi motor dengan harga 100 ribuan dengan indikator lampu yang menarik. Kalau kita kreatif kita dapat membuat sendiri dengan harga yang relatif murah dan lebih handal dari pada produk yang ada dipasaran. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat gambar dibawah ini :


Gambar skema DC Boster.


Komponen yang dibutuhkan :
-  R1.3,3K.
- Led warna Merah.
- 5 Buah Capasitor 2200Mf/35V > untuk hasil yang maxsimal Kita dapat mengganti nilai capasitor menjadi 6800Mf/35V. 

Cara pemasangannya  yaitu :

- Jalur huruf A dihubungkan pada positif CDI DC.
- Jalur huruf B dihubungkan dengan negatif accu atau dihubungkan dengan masa(body).Saat kunci kontak
   pada posisi ON maka lampu led akan menyala.


Berikut ini adalah isi sebuah boster jika di buka


Gambar isi dari DC Boster
.

Gambar DC Boster menggunakan indikator Seven Sigmen.



gambar isi dari DC Boster.
CARA PEMASANGAN:

DC BOOSTER mempunyai 3 kabel. Yaitu: merah, hitam & kabel ground berwarna hitam.* Untuk keamanan selama pemasangan, lepas dulu kabel negatif (-) aki yang berwarna hitam.* Kabel merah DC BOOSTER dipasang pada terminal positif (+) aki.* Kabel hitam DC BOOSTER dipasang pada terminal negatif (-) aki.* Kabel hitam tambahan adalah kabel ground (ground wire). Dipasang dari terminal negatif (-) aki menuju ke ground/chasis motor.* Apabila hasil yang diperoleh kurang maksimal, bisa ditambah 1 DC BOOSTER lagi dengan cara dipasang paralel di aki.* Letakkan DC BOOSTER di tempat yang tidak terjangkau oleh air.* Untuk memperoleh hasil yang lebih bagus: ubah setting karburator.sesuai dengan kebutuhan atur Jarak gap / kerenggangan elektroda busi * Kondisi motor / mesin dalam keadaan sehat.

BOOSTER

Nah, pertama sobat pasti udah pada tau piranti booster kelistrikan premium yang sudah banyak dijual di pasaran kan ? Yap, pengaplikasiannya secara signifikan mampu mengawetkan aki, bikin klakson lebih nyaring, sama bikin lari motor lebih kencang dan bertenaga.


ini yang bakal kita bikin, dengan cara mc.gyver
Nah, sekarang kita bakal buat yang fungsi dan kemampuannya sama persis kayak gitu, tentunya dengan modal duit sekitar 1/8 - nya saja? Anda berminat ? Oke..., baca terus.

Pada dasarnya booster kelistrikan adalah bersifat kapasitansi (kapasitor) yang berfungsi sebagai pembangkit daya reaktif. Untuk penjelasan bagaimana kapasitor bisa berpengaruh signifikan pada rangkaian listrik susah untuk diterangkan lewat artikel ini, kepanjangannn men, yang ada ente malah mumet kalau belum sama sekali menyentuh ilmu elektronika, tapi kalau emang mau tau lebih detail, monggo ente bisa baca lebih lengkap disini.

Nah, dari hasil perhitungan rumus dasar cos r = pf = P (kW) / S (kVA) ........(1)  P (kW) = S (kVA) . cos r................(2) , yang dijabarkan bla..bla..bla (tadinya niat mau tampilin itungannya disini, tapi tapi takut marai mumet, jadi ya percaya aja lah ya sama ane :D), maka gue menemukan bahwa kapasitas kapasitor yang dapat secara optimal mendukung kinerja kelistrikan motor adalah minimal berukuran 10.000 uF (baca: 10.000 mikro farad) Diulang biar ga lupa : 10.000 MIKRO FARAD (masalahnya ente ntar ke toko listrik jgn sampe keliru nyebut, wkwkwk)

Nah, piranti utama yang bakal kita beli adalah suatu komponen elektronika yang bernama electrolyt capacitor atau elco. Diulang lagi biar ga lupa : ELCO (:D), bukan apa-apa soalnya kapasitor itu banyak jenisnya, nah kali ini yang bakal kita beli adalah ELCO kapasitas 10.000 MIKRO FARAD dengan tegangan kerja minimal 50V. ELCO adalah jenis kapasitor DC, dan digunakan disini sebagai booster kelistrikan DC pula, nah ada pula kapasitor AC, gunanya di motor juga SPEKTAKULER asal tau rahasianya :D, nanti ane beritahu di artikel berikutnya kalo ane lagi bermurah hati, hehehe...

Balik ke ELCO, nah bentuknya kurang lebih kayak gini nih :


Oke cukup beli 1, harganya sekitar Rp20.000,- s/d Rp40.000,- tergantung merk , lumayan kan kalau dibanding booster kelistrikan sejenis yang bisa diatas Rp200.000,-. Selanjutnya ente jangan lupa juga beli kabel dan konektor untuk menghubungkan kapasitor ke aki. Nah, tinggal merakit. Sambung kaki-kaki ELCO ke kabel, ingat jangan terbalik karena ELCO punya kaki positif dan negatif. Kaki negatif ditandai dengan marking pada badan ELCO berupa strip-strip minus, ente bisa liat dibawah ini :

Ayo anak-anak, yang mana kaki negatifnya?, yang kanan pak guruu, pinterrr...
Nah, kalo udah, tinggal dihubungin deh masing-masing kabel negatif dan positif dari elco ke kutub negatif dan positif aki. AWAS, jgn sampai kebalik, kalau kebalik ELCO bisa MELEDAK. Walaa..., selesai. Rasakan khasiatnya, josss.... Booster ini akan mengoptimalkan kinerja semua komponen kelistrikan motor yang bertipe DC, ya maka dari itu jika pengapian menganut DC, lari motor bakal jauh lebih joss, sementara kalau lampu-lampu yang menganut kelistrikan DC maka bakal lebih silau menn, termasuk raungan klakson lebih nyaring bunyinya :D. Dan hebatnya, pengaruh itu bisa dirasakan langsung setelah anda memasang booster ini. Tapi sementara nggak bakalan ngefek ke rangkaian yang bersifat AC seperti misalnya lampu bagi kebanyakan motor Jepang dan pengapian AC bagi beberapa motor.

Trus ada nggak yang bisa bikin kelistrikan AC lebih joss?, Ya ada lahh, bahannya kapasitor juga, tapi khusus, dan pengaplikasiannya bakal agak berbeda dengan yang kita buat sekarang.
BTW, ini dia booster DC ver.advanced yang udah jadinya di CS1 a.k.a kilatperak ane, boleh diadu dengan yang harganya 200-an ribu keatas, hehe :


Selamat mencoba,SEMOGA BERMANFAAT ????

BOOSTER

Koil Booster rakitan

nah buat agan - agan yang doyan ama kebut2an dijalanan wah nih alat berguna banget deh
buat harian juga bisa , pengaplikasiannya juga sangat gampang tinggal cangkok ke koil bawaan motor
Gak perlu ganti CDI racing atau Koil racing, sangat praktis kok......!!!
gak perlu repot2 ke mekanik handal untuk Tune Up motor anda, dijamin Ajib deh muantab surantab....!!!!
Bermula dari hobby kebut2an di sebuah tempat di jakarta tempo dulu sih, sekarang dah rada2 insyaf, namanya juga anak muda dengan darah muda motor harian buat gawe aja dipasang alat ini.
Sekarang daripada penemuan ini disimpen juga ga jadi tape mending disebarin aja .........:-)
intinya ini hanya sebuah kumparan untuk melipat gandakan arus listrik dari CDI, kemudian arus yang sudah digandakan di umpan balik ke koil, Kebayang deh efeknya gimana........wkwkwkwkwkwk.
Masih bingung????
monggo nanya sama profesornya

Mr.VQ atau Call langsung ke 085781286792

coba intip pemasangan di motornya




Nah penasaran kan?

booster kelistirkan

OTOMOTIFNET - Kurang lengkap bila ngomongin motor, tapi belum menyinggung booster pengapian (BP). Yakni peranti kelistrikan yang didesain untuk meningkatkan sistem pengapian pada tunggangan.

Alat ini juga kerap dipakai sebagai alternatif pengganti, buat yang ogah pakai CDI racing. “Fungsi utamanya, meningkatkan pengapian di ruang bakar, sehingga pembakaran lebih sempurna, ujungnya tenaga lebih terdongkrak serta konsumsi BBM makin irit,” ujar Novan, salah satu produsen BP berlabel Xtrime Fire.

Nah, di pasaran, part ini ditawarkan ada berbagai macam model dan bentuk. Tapi umumnya terbagi 3 kategori; booster koil, aki dan CDI. “Lantaran pemasangannya bersifat part tambahan, ada yang dipasang setelah koil, sebelum koil dan digabung sama aki,” urai Bintoro, produsen BP APS.

Koil Booster

Meski ada yang dipasang sesudah koil, yakni pada kabel busi, tapi umumnya peranti ini dipasang sebelum koil. “Namanya juga booster. Masing-masing punya trik/cara pemasangan dan keunggulan sendiri. Tapi tujuan utamanya sama, untuk meningkatkan pengapian,” aku Edi Karyadi, penggagas Power Sure 3D1.

Di pasaran bisa ditemukan dalam beragam merek dan bentuk dengan harga bervariasi. Mulai Rp 70 ribu hingga Rp 300 ribu. Misal ada APS, Power Sure 3D1, ECB (elektronic coil booster), Xtrime Fire, Pro Tech dan Turbo.


Aki Booster

Kegunaannya mirip koil booster, juga diklaim produsennya bisa mendongkrak performa dan bikin irit BBM. Tapi pasang part ini hanya pada aki.

“Kalau suplai kelistrikan dari aki ke CDI dan koil stabil, dimungkinkan api di ruang bakar akan lebih besar. Sehingga pembakaran jadi lebih sempurna dan konsumsi BBM jadi lebih hemat,” ungkap Hendry, pencetus DC booster.

Beberapa merek yang sudah beredar di pasaran dibanderoli dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu. Yakni; BKRC Performance Booster, HRC Acceleration Saver, DC Booster, EXR dan TDR.
 
Daftar Harga Produk
APS (021-3219916) 250 ribu
Power Sure 3DI (021-7520406) 350 ribu
ECB (0825-34026173) 70 ribu
Xtrime Fire (021-7303736) 125 ribu
Pro Tech (021-7303736) 90 ribu
Turbo (0812-2341795)
75 ribu
Aki Booster
BKRC Performance Booster (021-80205520) 165 ribu
HRC Acceleration Saver (021-97581141) 165 ribu
DC Booster (0812-6700001) 150 ribu
EXR (021-5482973)
150 ribu
TDR (021-6930777)
500 ribu
CDI Booster
CDI Stabilizer AC/DC (0819-08085308) 175 ribu

Bikin Sendiri Kapasitor Bank Buat Motor

Buat Sendiri Kapasitor Bank Motor  | Sekarang lagi marak para biker yang memasangkan kapasitor bank pada kelistrikan motor mereka. Kapasitor bank berfungsi untuk menyimpan tegangan dan mengecilkan ripple tegangan DC.
skema kapasitor bank
Entah bagaimana ceritanya, sejak di motor ada kapasitor banknya. Pasalnya, tegangan yang dikeluarkan dari aki motor sudah sudah merupakan tegangan DC murni tanpa ripple. Pada dasarnya kapasitor pada motor dan kapasitor bank pada mobil adalah sama. Yang membedakan adalah nilai faradnya saja.
Fungsi kapasitor bank pada motor atau mobil.
  • Penstabil tegangan aki dan kelistrikan motor
  • Membuat awet aki
  • Kendaraan cenderung untuk hemat BBM
  • Komponen kelistrikan lebih bekerja maksimal
Kapasitor bank pada motor ini sudah terpasang pada motor tiger 2000. Motornya adik keponakan. Dia minta dibikinkan kapasitor bank lantaran memakai lampu H4 pada lampu utama motor dan memasang klason keong pada motor. Mungkin lantaran itu, dia butuh kapasitor bank untuk mengurangi drop tegangan pada aki pada saat kesemua komponen elektronik itu nyala secara bebarengan.
Cara buat kapasitor bank pada motor itu mudah dan simple. Harga komponen elektronik untuk membuatnya pun cukup murah. Tergangtung spesifikasi kapasitor bank yang akan dibuat. Komponen utama pada kapasitor bank adalah eclo bipolar atau disebut kapasitor.
Kapasitor bank yang ideal untuk motor atau mobil itu sekitar 70.000 µF sampai 0,5 F dengan volt 50 V dengan maksimal suhu 105 0C.
Cara membuat kapasitor bank tersebut ada banyak caranya, kapasitor bank bisa dibuat secara pararel dengan menggunakan beberapa elco atau kapsitor dengan nilai tertentu sampai nilai yang diinginkan. berikut ini contoh beberapa rangkaiannya:
elco pararel
Perlu diperhatikan dalam merakit elco kapasitor tersebut adalah kutub positif dan kutub negatif elco jangan sampai terbalik. Bila ada polaritas elco kapasitor yang terbalik maka kemungkinan elco tersebut bisa meledak dan membuat aki rusak.
Selain itu, ada juga elco kapasitor yang tidak harus dirakit secara pararel. Jadi beli elco kapasitor yang bernilai farad besar. Komponen ini bisa dibeli di toko komponen AC dan kulkas. Contohnya beli 1 farad.
Saran saya, bila membeli kapasitor harap hati-hati. Banyak beredar komponen elektronik yang palsu. Banyak juga komponen elco kapasitor yang palsu. Perlu diketahui, semakin besar nilai farad kapasitornya, maka elco kapasitor akan semakin berat. Pilih juga kapasitor yang bermerek baik. Contohnya merek “rubicon”.